Member Logo

Refleksi Maulid: Menjadi Baik di Mata Nabi

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 28 Aug, 2026

Est. 5 Menit

Refleksi Maulid: Menjadi Baik di Mata Nabi

Oleh : Ahmad Hujaj Nurrohim, Lc., M.H

[OPINI] Setiap kali Maulid Nabi Muhammad saw. diperingati, kita biasanya kembali mengenang kelahiran, perjuangan, dan keteladanan beliau. Namun, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan: bagaimana Nabi memandang manusia dengan segala perbedaan profesi, keadaan ekonomi, dan jalan hidupnya?

Kelahiran Nabi Muhammad saw. melalui seorang ibu sebagaimana manusia pada umumnya. Namun, beliau memiliki sejumlah keistimewaan yang menjadikannya berbeda, terutama dalam akhlak dan kepribadiannya. Beliau adalah sosok yang dekat dengan kehidupan manusia. Dalam Perang Khandaq, misalnya, Nabi tidak hanya memerintahkan para sahabat menggali parit, tetapi turut mengangkut tanah bersama mereka. Al-Bara’ bin ‘Azib ra. bahkan meriwayatkan bahwa ia melihat Nabi mengangkut tanah hingga tanah tersebut menutupi bagian putih perut beliau. Menariknya, Anas bin Malik ra. juga meriwayatkan bahwa ia tidak pernah menyentuh sutra atau sesuatu yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah saw.

Siapa pun kita, di hadapan orang yang menyukai kita, kita akan selalu tampak sebagai orang yang baik. Sebaliknya, di hadapan orang yang membenci kita, sebaik apa pun yang kita lakukan, kita tetap dapat dipandang sebagai orang yang buruk. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali begitu haus akan validasi dari sesama manusia. Bahkan, tidak jarang kita mengorbankan kebebasan dalam berekspresi hanya demi memenuhi penilaian dan ekspektasi orang lain.

Hidup terkadang dapat kita pilih, tetapi pada saat tertentu harus kita jalani dengan segala keterbatasan. Tidak jarang, kehidupan dan pilihan kita tampak buruk di mata orang lain hanya karena tidak sesuai dengan keinginan atau harapan mereka. Namun, Nabi Muhammad saw. tidak menyempitkan jalan kebaikan hanya pada satu profesi, satu status sosial, atau satu kondisi ekonomi. Selama tidak bertentangan dengan syariat Islam, setiap orang memiliki ruang untuk menjadi baik dengan jalan yang berbeda-beda.

Misalnya dalam hal profesi. Mana yang sebaiknya dipilih: menjadi pedagang atau pengajar? Menjadi pedagang memiliki peluang untuk memperoleh kekayaan, sementara menjadi pengajar, khususnya di Indonesia, sering kali dijalani dengan penghasilan yang pas-pasan. Namun, di mata Nabi Muhammad saw., keduanya dapat menjadi jalan kebaikan. Nabi sendiri pernah menjalani profesi sebagai pedagang dan melakukan perjalanan dagang ke Syam. Di sisi lain, beliau juga menjalankan peran sebagai pengajar bagi para sahabat, mengajarkan wahyu dan hikmah serta membimbing mereka dengan penuh ketulusan. Dari sini kita belajar bahwa kemuliaan tidak melekat secara otomatis pada profesi tertentu.

Begitu pula dengan kondisi ekonomi. Di sekitar kita, orang yang memilih fokus belajar agama dengan kondisi ekonomi pas-pasan, bahkan miskin, barangkali akan mudah dicibir. Ia dianggap hanya mementingkan akhirat tanpa mengambil peran dalam memakmurkan kehidupan dunia. Sebaliknya, orang yang bersemangat mengejar dunia sering kali dianggap hebat, terlebih jika mampu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Namun, Nabi tidak memandang manusia dengan ukuran sesederhana itu. Abu Hurairah, misalnya, hidup dalam kondisi yang sangat sederhana dan termasuk Ahl al-Suffah. Dalam sebuah riwayat al-Bukhari, Ahl al-Suffah digambarkan sebagai orang-orang yang tidak memiliki keluarga, harta, atau tempat bergantung. Abu Hurairah termasuk sahabat yang dekat dengan kelompok tersebut.

Kondisi sederhana itu tidak menghalangi Abu Hurairah untuk memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Nabi bahkan mendoakan agar Abu Hurairah dan ibunya dicintai oleh orang-orang beriman. Abu Hurairah kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Ia mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi memiliki kontribusi besar dalam menjaga dan menyampaikan warisan pengetahuan Nabi kepada generasi setelahnya.

Di sisi lain, ada Utsman bin Affan yang dikenal sebagai sahabat kaya. Nabi tidak menjadikan kekayaan Utsman sebagai sesuatu yang tercela. Justru, kekayaan tersebut menjadi jalan bagi Utsman untuk menghadirkan kemaslahatan. Dalam riwayat al-Tirmidzi disebutkan bahwa Utsman membeli sebuah sumur dan menjadikannya dapat dimanfaatkan oleh semua orang, termasuk orang miskin dan para musafir. Ia juga menggunakan hartanya untuk membantu menyiapkan Jaisy al-‘Usrah dalam ekspedisi Tabuk.

Lalu, menjadi miskin atau kaya? Tentu banyak di antara kita akan memilih menjadi kaya. Dengan harta, kita dapat mencukupi kebutuhan hidup sekaligus berbagi kepada sesama. Namun, teladan Nabi dan para sahabat menunjukkan bahwa kaya maupun miskin bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani keadaannya dan menggunakan apa yang dimilikinya untuk kebaikan.

Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat kapan Nabi dilahirkan. Maulid adalah kesempatan untuk kembali belajar bagaimana beliau memandang manusia. Nabi tidak menyempitkan jalan kebaikan pada satu profesi, status sosial, atau keadaan ekonomi. Ada yang mengabdi melalui ilmu, ada yang melalui perdagangan, ada yang melalui kekayaan, dan ada pula yang berjuang dalam keterbatasan. Semuanya memiliki ruang untuk menjadi baik.

Mungkin di hadapan manusia kita tidak selalu mendapatkan validasi. Pilihan kita mungkin dianggap salah, profesi kita mungkin dipandang rendah, atau keadaan ekonomi kita mungkin menjadi bahan penilaian. Tetapi teladan Nabi mengajarkan kita untuk tidak mengukur kemuliaan manusia hanya dari apa yang tampak di permukaan. Sebab, yang paling penting bukan sekadar menjadi apa kita, melainkan menjadi baik melalui apa yang kita miliki dan apa yang kita jalani.*

Penulis : Ahmad Hujaj Nurrohim, Lc., M.H merupakan dosen Program Studi Studi Islam Interdisipliner, Fakultas Dirasah Islamiyah, Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Selain aktif mengajar, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di masyarakat. 

Editor : Latifah

*Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya penulis. Seluruh isi, pandangan, interpretasi, dan informasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas pandangan atau pendapat yang terdapat dalam tulisan, di luar proses penyuntingan yang dilakukan untuk kepentingan publikasi. 

Bagikan

Berita Terkait

Merenungkan Kembali Arti Merdeka Melalui Doa dan Kebersamaan Warga

Merenungkan Kembali Arti Merdeka Melalui Doa dan Kebersamaan Warga

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Aug, 2026 | Durasi. 9 Menit

Meneladani Rasulullah SAW, UNU Jogja Ajak Civitas Perkuat Kecintaan dan Keteladanan

Meneladani Rasulullah SAW, UNU Jogja Ajak Civitas Perkuat Kecintaan dan Keteladanan

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit

NU dan Pendidikan

NU dan Pendidikan

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 21 Aug, 2026 | Durasi. 10 Menit

Berita Populer